SEKOLAH KRISTEN CALVIN

 

Alamat Kami :
Menara Calvin Lt.3
Kompleks RMCI
Jln. Industri Blok B14 Kav. 1
Jakarta Pusat 10720
Telp : (021) 658-678-12
    (021) 658-678-14
Faks. : (021) 658-678-13
HP :

087-8899-70000

humas@sekolahkristencalvin.org

beranda | berita | maria magdalena: aku telah melihat tuhan

Maria Magdalena: Aku Telah Melihat Tuhan

Ringkasan Khotbah Ibadah Paskah Gabungan 

 

“Maria Magdalena: Aku Telah Melihat Tuhan”

Pdt. Calvin Bangun

 

Yoh 20:14-18

 

Bagian ini menceritakan pertemuan Maria Magdalena dengan Yesus Kristus pada saat subuh. Mengapa Maria Magdalena datang pada waktu subuh? Karena Ia dan beberapa perempuan ingin meminyakki mayat Yesus. Pada zaman itu, tradisi meminyakki mayat seperti tradisi membawa bunga ke kuburan pada zaman ini untuk memberikan penghormatan terhadap orang yang sudah meninggal. 

Matius dan Markus mencatat bahwa Maria Magdalena dan Yusuf dari Arimatea dan beberapa perempuan mengantar Yesus sampai ke kuburan. Sebenarnya mereka ingin meminyakki mayat Yesus saat itu juga, tetapi karena hari sabat sudah dekat mereka tidak sempat. Maka niat baik mereka untuk menunjukkan penghormatan terakhir harus ditunda. Ini hal yang menarik. Ketika mereka melihat Tuhan Yesus disalibkan, mereka melihat Tuhan Yesus mati dengan cara yang hina. Meski begitu, mereka tetap mau menghormati Tuhan Yesus. Logikanya, jika ada orang jahat dihukum mati dengan cara begitu hina, kemungkinan kecil kita melakukan penghormatan terakhir terhadap hidupnya. Tepat setelah hari sabat berlalu, Maria Magdalena dan perempuan-perempuan itu kembali ke kuburan Yesus untuk meminyakki jenazah Yesus Kristus. Apa yang mereka lakukan ini menunjukkan betapa mereka mengasihi Yesus Kristus. Wanita-wanita ini begitu mengabdi terhadap Yesus Kristus, inilah yang disebut an expression of intense devotion (Mar 16:1-2). Setidaknya ada 3 hal yang ditunjukkan di dalam Markus 16 ayat 1-2:

(1) Mereka rela bangun sebelum matahari terbit untuk membeli rempah-rempah; (2) Mereka pergi ke kuburan setelah matahari terbit; (3) Mereka bahkan tidak berpikir siapa yang akan menggulingkan batu tersebut. Mereka tahu bahwa kuburan Yesus ditutup oleh sebuah batu yang sangat besar. Batu itu digulingkan dari atas ke bawah untuk menutup kuburan, ini mudah. Tetapi untuk membukanya lebih sulit, karena harus mendorong batu itu ke samping atau ke depan. Hal ini baru mereka pertanyakan saat mereka dalam perjalanan. Bagi mereka yang penting hanya satu, memberikan penghormatan kepada Yesus. Dibandingkan murid-murid Yesus yang laki-laki, perempuan-perempuan ini menunjukkan bahwa mereka lebih mengasihi Yesus. Mari kita bertanya, di mana Petrus pagi itu? Di mana Yakobus? Thomas? Yesus memilih murid-muridnya untuk bisa bersekutu bersama mereka. Bukan hanya menjadi guru dan murid, mereka bersekutu dengan Yesus selama 3 setengah tahun. Tetapi mengapa mereka tidak berpikir untuk memberikan penghormatan terakhir? Kemungkinan mereka masih syok, trauma, dan kecewa terhadap kematian Tuhan Yesus. Sewaktu mereka dipilih Tuhan Yesus, mereka meninggalkan segala sesuatu untuk bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Mereka seperti memiliki harapan bahwa mengikut Yesus mungkin akan menguntungkan bagi mereka. Tetapi 3 setengah tahun kemudian yang mereka dapatkan bukan keuntungan, tetapi kekecawaan.

 

Jika saat itu perempuan-perempuan itu menunjukkan pengabdian mereka kepada Yesus yang sudah mati, bagaimana dengan saudara dan saya yang saat ini sudah tahu Yesus sudah bangkit? Seharusnya kita menunjukkan pengabdian yang lebih tinggi. Perempuan-perempuan itu tidak punya ekspektasi kebangkitan, yang ada hanyalah pengabdian.

 

Pada saat mereka sampai dikuburan, batu sudah terguling, dan mayat Yesus sudah tidak ada di dalam kuburannya. Ini mengejutkan mereka. Kuburannya sudah kosong, ini menunjukkan Ia hidup. Tetapi pengalaman perempuan-perempuan itu tidak seperti itu. Mereka tidak langsung menyimpulkan Tuhan Yesus hidup. Perempuan-perempuan itu bertujuan untuk meminyakki tubuh Yesus, tetapi tidak ada lagi jenazah, lalu apa yang mau diminyakki? Lalu apakah niat baik mereka sia-sia? Tidak. Allah sedang mengarahkan niat baik mereka untuk hal yang besar. Sebenarnya kubur kosong itu adalah undangan, undangan untuk menjadi saksi kebangkitan. Semakin mereka masuk lebih dalam, semakin mereka melihat kemuliaan Kristus. Mereka adalah saksi yang pertama kali melihat kemuliaan Kristus. Pengabdian perempuan itu bukan lagi meminyakki tubuh Tuhan Yesus, tetapi saksi kebangkitan. Tuhan tidak ingin dihormati sebagai seorang pahlawan yang tragis, tetapi dihormati sebagai Raja yang menang. Apa yang bisa menjadi pengabdian kita kepada Kristus? Menjadi saksi-Nya.

 

Maria Magdalena lebih beruntung dari perempuan-perempuan yang lain. Ia tidak hanya menjadi saksi pertama kubur kosong, tetapi juga saksi pertama melihat penampakan Tuhan Yesus. Perempuan-perempuan itu tidak melihat Tuhan Yesus bangkit, tetapi mereka langsung pergi ke para murid untuk mengatakan kubur-Nya kosong.

 

Kebangkitan Kristus itu dikonfirmasi oleh 2 bukti:

(1) Kubur kosong;

(2) Penampakan diri.

 

Maria Magdalena melihat keduanya. Penampakan diri Yesus menunjukkan bahwa kubur kosong membuktikan Dia hidup. Di dalam 4 injil, ada banyak sekali Tuhan Yesus menujukkan penampakan diri setelah Dia bangkit (post-resurrection appearance).

 

Tempat Yesus dikuburkan itu sebuah taman, dan di tempat itulah Maria Magdalena melihat post-resurrection appearance. Pada saat ia melihat Tuhan Yesus, Maria mengira Dia adalah penunggu taman. Mundur jauh kepada penciptaan, sebutan “penunggu taman” ini berkaitan dengan penciptaan. Di dalam Kejadian 2, Ketika Adam diciptakan, Allah menempatkannya sebagai “gardener”. Adam adalah gardener pertama, dan Tuhan Yesus adalah gardener terakhir. Ada motif di sini, ini bukan kebetulan. Injil Yohanes ingin menyatakan bahwa kebangkitan Kristus adalah the new beginning of new creation, awal dari penciptaan yang baru. Injil Yohanes menceritakan kisah kebangkitan Kristus dengan satu kalimat, “Pada hari pertama”, ini berarti new beginning. Yohanes tidak mencatat sebagai “hari ketiga”, tetapi “hari pertama”, dan “pagi-pagi benar”.

 

Ayat 17, saat Maria Magdalena melihat itu Yesus, Maria menahan (cling) Yesus. Seolah Maria berkata kepada Yesus, jangan pergi ke mana-mana lagi. Ia ingin menahan peristiwa yang begitu besar ini untuk dirinya. Maka Yesus berkata (ay. 17), dengan terjemahan yang lebih tepat: “Jangan Engkau menahan Aku,” seolah-olah Tuhan Yesus berkata tempat-Ku bukan di sini, tempat-Ku adalah bersama dengan Bapa. Bukan untuk konsumsi pribadi, bukan untuk kalangan sendiri. Kemudian Tuhan Yesus berkata, “Tetapi katakanlah,”. Ada 2 hal yang dikatakan Yesus, (1) Jangan tahan Aku; (2) Pergilah dan katakanlah. Andreas Kostenberger memberikan satu kalimat yang cukup baik menurut saya, “This is not the time for sentimentality, this is the time for action.”

 

Apa yang dilakukan Maria Magdalena seperti apa yang dilakukan oleh banyak orang Kristen hari ini, yaitu menjadikan Kristen sebagai private religion. Tanpa sadar atau seringkali disadari, orang Kristen mengunci Kekristenan sebagai private religion, apa itu? Private religion adalah agama yang menawarkan keamanan dan kenyamanan pribadi. Ini agak mirip dengan mistical religion. Melihat Tuhan, namun hanya untuk diri sendiri. Private religion tidak pernah berpikir pengaruhnya bagi dunia, dan itulah yang dilakukan Maria Magdalena. Ini bukanlah Kekristenan yang Yesus mau. Saya kutip dari Lesslie Newbigin, seorang misionaris dari Inggris yang pernah hidup di India selama puluhan tahun. Dia mengatakan bahwa, “The gospel is a public truth.” Injil adalah kebenaran publik. Saya kutip lagi misionaris bernama Miroslav Volf, “From the very beginning Christianity is a public religion, not a private religion.” Dari sananya, Kristen itu public religion. Ketika Musa naik ke atas Gunung Sinai, dia mendapatkan visi secara pribadi tetapi dia tidak terus di Gunung Sinai, ia membawa visi itu ke bawah lalu menginterpretasikan visi itu kepada dunia. Apa itu public religion? Agama yang punya implikasi publik, sehingga harus dibagikan kepada siapapun. 

 

Yesus menampakkan diri bukan untuk disimpan sebagai pengalaman pribadi. Kebangkitan Kristus terlalu besar untuk dikurung untuk kalangan sendiri. Itulah sebabnya Dia memanggil saksi-saksi-Nya.

 

Sungguh sangat menarik, saksi kebangkitan pertama justru adalah kelompok yang tidak diizinkan menjadi saksi di pengadilan bagi orang Yahudi pada zaman itu, yaitu para perempuan. Saksi pertama adalah seorang perempuan. Tetapi Tuhan memanggilnya menjadi saksi kebangkitan-Nya. 

Kita dipanggil untuk menjadi saksi dan seperti Maria kita berseru, “Saya melihat Tuhan.” Kita tidak melihat Yesus secara jasmani saat ini, tetapi kita melihat Yesus melalui iman kita dan Firman-Nya. Tetapi kita tetaplah saksi, gereja adalah komunitas saksi untuk bersaksi bagi-Nya.

 

Bagaimana menyaksikan kebangkitan kristus?

(1) Pemberitaan Injil;

(2) Kehidupan komunitas kita.

 

Tidak kebetulan Tuhan Yesus bangkit pada hari minggu, dan gereja pun beribadah pada hari minggu. Pada saat kita datang beribadah bersama-sama pada hari minggu, kita sedang menyatakan kepada dunia bahwa kehidupan bersama ini sebagai sebuah kesaksian akan kebangkitan.

 

Ringkasan khotbah oleh TLG.