SEKOLAH KRISTEN CALVIN

 

Alamat Kami :
Menara Calvin Lt.3
Kompleks RMCI
Jln. Industri Blok B14 Kav. 1
Jakarta Pusat 10720
Telp : (021) 658-678-12
    (021) 658-678-14
Faks. : (021) 658-678-13
HP :

087-8899-70000

humas@sekolahkristencalvin.org

beranda | berita | sungai kerit, sekolah ketaatan

Sungai Kerit, Sekolah Ketaatan

Ringkasan Ibadah Gabungan Maret 2021

 

Sungai Kerit, Sekolah Ketaatan

Pdt. Ivan Kristiono

 

1 Raja-raja 17:1-6

Bulan lalu kita sudah membahas mengenai Elia yang diberikan tugas oleh Tuhan. Ia harus memilih antara risiko dan keamanan. Namun Elia taat akan perintah Tuhan. Di dalam Alkitab, dikatakan Elia muncul dengan sebuah khotbah yang begitu berkuasa (ayat 1). Setelah Elia diberi begitu banyak tempaan, Elia muncul berkhotbah, tetapi kemudian bersembunyi lagi. Di sini Elia diajar untuk taat terhadap permeliharaan Tuhan. Anak-anak sekalian, Tuhan mengasihi dan memelihara kita, tetapi ketika Tuhan mau menyatakan pemeliharaan-Nya seringkali kita tidak diberikan rancangan yang lengkap dari awal samai akhir. Tuhan membukakan rencana-Nya tahap demi tahap, sedikit demi sedikit secara progresif sesuai dengan pertumbuhan kita. Sebagai orang yang mengikut Tuhan, kita percaya kepada pemeliharaan Tuhan. Tuhan itu seringkali menuntun kita, seperti misteri. Pada saat kita mengarungi misteri itu, kita belajar trust kepada pemeliharaan Tuhan. Pada ending-nya semuanya untuk kebaikan yang Tuhan telah siapkan. Selama kita memegang tangan Tuhan, Tuhan menuntun kita dengan selamat. Elia belajar taat kepada pimpinan Tuhan.

 

Seringkali persiapan Tuhan yang disebut Sekolah Ketaatan itu kelihatan berat. Tetapi ending-nya adalah membawa kita kepada sukacita. Kita pasti lebih tertarik kepada kenyamanan, kesenangan, keamanan, dibanding dengan kedewasaan dan pertumbuhan rohani. Tetapi apa yang kita butuhkan yang seringkali kita tidak minta, Tuhan berikan kepada kita. Karena Tuhan seringkali tidak memberikan apa yang kita suka, tetapi apa yang kita butuhkan. Kita memang mau kedewasaan dan pertumbuhan, tetapi kalau bisa tanpa susah. Pertumbuhan rohani tidak akan ada tanpa adanya disiplin, bahkan mungkin rasa sakit (pain).

 

Elia Tuhan persiapkan untuk menghadapi Karmel. Bertarung dengan iman, dikeroyok oleh sekian ratus nabi baal. Maka rohaninya harus dipertumbuhkan, imannya harus dikuatkan. Maka Tuhan mempersiapkan hamba-Nya melalui Sungai Kerit, untuk menunggu dan sabar di situ menantikan kabar Tuhan. Elia disembunyikan oleh Tuhan karena Tuhan ingin membawa kedewasaan di dalam Elia.

 

Tugas berat, tentu provisi banyak. Kita semua tahu jika mau pergi ke tempat yang jauh dan berat, jangan dengan tangan kosong. Tuhan juga demikian, ketika Tuhan memerintahkan Elia, Dia juga menyediakan provisi. Tuhan menyiapkan mental dan skill yang dibutuhkan oleh hamba-Nya. Setiap kita juga demikian, kita mengerjakan tugas kita masing-masing dan setiap kita mungkin harus masuk di dalam penyediaan Tuhan yang berbeda-beda. Setiap kita tidak mungkin lepas begitu saja lalu Tuhan tidak memedulikan kita. Tuhan menyediakan provisi untuk kita boleh mengerjakan tugas yang Tuhan berikan, dan penyediaan-Nya itu cukup. Maka jika kita bertanya apakah di dalam dunia ini saya bisa merasa cukup? Kalau dilihat dari sudut pandang nafsu kita, tidak akan cukup. Tetapi kita bisa merasa cukup kalau melihat dari perspektif Alkitab, bahwa anugerah Tuhan itu cukup untuk kita boleh menyelesaikan panggilan kita. Pada saat Paulus meminta Tuhan mencabut duri di dalam dagingnya, Tuhan mengatakan bahwa anugerah Tuhan itu cukup, cukup untuk melakukan tugas yang Tuhan berikan.

 

Kita mungkin berpikir penyediaan Tuhan kepada Elia itu mewah karena Ia akan melakukan kebangunan rohani yang besar. Sayangnya kalau kita membaca pasal-pasal selanjutnya, penyediaan Tuhan bagi Elia adalah roti, air, burung gagak, menumpang di rumah seorang janda miskin yang sudah hampir mati kehabisan makanan. Mengapa begitu? Karena yang sangat dibutuhkan Elia adalah rohani yang kuat, hati yang tidak mendua. Di sini Tuhan memberikan semua latihan yang dibutuhkan Elia. Adik-adik sekalian, fokuslah kepada tugas yang Tuhan berikan. Jangan fokus kepada apa yang dimiliki orang lain.

 

Penyediaan/provisi Tuhan dalam 1 Raja-raja 17

1. Sifat provisi Tuhan

Provisi Tuhan bersifat natural dan juga bersifat supranatural. Elia pergi ke Sungai Kerit yang bisa diminum airnya di situ (penyediaan natural). Penyertaan Tuhan tidak tentu semuanya supranatural. Dari hal yang natural, Tuhan tumpangi sesuatu yang supranatural. Tetapi hal yang supranatural juga bisa datang melalui hal yang natural. Burung gagak yang membawa makanan, tepung yang tidak pernah habis: ini supranatural. Natural dan supranatural, semua datang dari Tuhan.

2. Provisi Tuhan cukup untuk menyelesaikan tugas

Tuhan tidak sembarangan mengutus kita, Ia menyediakan segala hal. Penyediaan itu berkait untuk menyelesaikan tugas. Provisi setiap orang berbeda-beda, demikian tugasnya berbeda-beda. Kita tidak perlu iri satu dengan yang lain.

3. Provisi Tuhan itu meliputi ujian

Elia mendapat penyediaan dan penyediaan Tuhan itu juga meliputi ujian atau sekolah ketaatan. Sebuah sekolah di mana Tuhan langsung menjadi gurunya. Seorang tentara yang terlatih membutuhkan pelatihan yang mahal. Semakin hebat skill dan persenjataannya, semakin tinggi pelatihannya. Skill dan mental tidak muncul secara otomatis, maka Tuhan memberikan ujian. Maka Elia diutus pergi ke Kerit, itu adalah bagian dari ujian.

 

Ujian Elia:

1. Pembaharuan identitasnya

Elia betul-betul diajak untuk melihat rencana Tuhan dan kemudian memiliki identitas sebagai anak Tuhan, bukan hanya suatu suku tertentu di dalam sebuah bangsa. Elia diperintahkan sembunyi di Sungai Kerit, itu seolah-olah diperintahkan ke tempat di luar wilayah kerjanya sebagai orang Israel. 

a. Elia adalah seorang nabi, tetapi disuruh untuk sembunyi.

b. Elia adalah seorang Yahudi, tetapi ditolong oleh burung gagak.

Kita sering belajar kalau burung gagak itu memegang bangkai, makanannya adalah bangkai. Lalu sekarang burung gagak memberi makan Elia. Elia mungkin kebingungan, tetapi Elia belajar satu hal, Elia taat kepada Tuhan. Sumber kebenaran itu adalah Tuhan.

2. Elia dipanggil, diuji untuk betul-betul sandar kepada Tuhan sepenuhnya

Elia di Sungai Kerit berdiam dan merenung, kemudian Tuhan mengizinkan air sungainya mulai habis. Tetapi Tuhan belum memerintahkan apa-apa, sehingga Elia belum boleh pergi. Elia harus berada di situ, dalam keadaan air sungai yang pelan-pelan mulai turun. Kemudian pada detik-detik terakhir Tuhan memerintahkan Elia untuk pergi ke Sarfat. Itu adalah saat Elia belajar bersandar kepada Tuhan 100%. Kalau dipikir-pikir, susah menjadi Elia. Ia mengalami kelaparan dan kehausan, tidak ada hujan, karena Elia yang berdoa ingin ada kebangunan rohani. Siapa yang berdoa? Elia. Siapa yang kalau berdoa akan muncul hujan lagi? Elia. Kenapa Elia tidak berdoa? Karena Elia tahu belum waktunya. Saat sungai mulai mengering, ada 2 jalan keluar: pindah atau berdoa minta hujan turun. Tuhan belum memerintahkan Elia untuk pindah, namun jika Elia berdoa minta turun hujan, sasarannya tidak tercapai: memberi syok bagi suatu bangsa, memberi pelajaran bahwa baal tidak berkuasa. Ketika Anda berdoa untuk kebangunan, mungkin Anda juga akan kena dampaknya. Elia betul-betul mengasihi bangsanya, dia ingin ada kebangunan rohani, dan untuk itu Elia terkena dampak dari doanya sendiri (hidup tidak nyaman). Mungkin kita merindukan sesuatu dan berdoa, satu hal yang pasti adalah kita harus menyiapkan hati, kalau kita ikut ambil bagian dan kita akan Tuhan izinkan mengalami kesusahan (bagian dari proses).

 

John Calvin mengatakan, kita di dunia ini seperti sekolah Kristus, yaitu sehari-hari kita belajar mengikuti Kristus dan belajar taat. Anak-anak, biar saat kita berada di Sekolah Ketaatan, kita tidak kehilangan trust kita. Pegang tangan Tuhan meski kita belum bisa melihat hari depan. Tuhan akan tuntun kita menuju hari depan yang penuh dengan pengharapan.

 

Ringkasan oleh TLG.

Sungai Kerit, Sekolah Ketaatan

Pdt. Ivan Kristiono

 

1 Raja-raja 17:1-6

Bulan lalu kita sudah membahas mengenai Elia yang diberikan tugas oleh Tuhan. Ia harus memilih antara risiko dan keamanan. Namun Elia taat akan perintah Tuhan. Di dalam Alkitab, dikatakan Elia muncul dengan sebuah khotbah yang begitu berkuasa (ayat 1). Setelah Elia diberi begitu banyak tempaan, Elia muncul berkhotbah, tetapi kemudian bersembunyi lagi. Di sini Elia diajar untuk taat terhadap permeliharaan Tuhan. Anak-anak sekalian, Tuhan mengasihi dan memelihara kita, tetapi ketika Tuhan mau menyatakan pemeliharaan-Nya seringkali kita tidak diberikan rancangan yang lengkap dari awal samai akhir. Tuhan membukakan rencana-Nya tahap demi tahap, sedikit demi sedikit secara progresif sesuai dengan pertumbuhan kita. Sebagai orang yang mengikut Tuhan, kita percaya kepada pemeliharaan Tuhan. Tuhan itu seringkali menuntun kita, seperti misteri. Pada saat kita mengarungi misteri itu, kita belajar trust kepada pemeliharaan Tuhan. Pada ending-nya semuanya untuk kebaikan yang Tuhan telah siapkan. Selama kita memegang tangan Tuhan, Tuhan menuntun kita dengan selamat. Elia belajar taat kepada pimpinan Tuhan.

 

Seringkali persiapan Tuhan yang disebut Sekolah Ketaatan itu kelihatan berat. Tetapi ending-nya adalah membawa kita kepada sukacita. Kita pasti lebih tertarik kepada kenyamanan, kesenangan, keamanan, dibanding dengan kedewasaan dan pertumbuhan rohani. Tetapi apa yang kita butuhkan yang seringkali kita tidak minta, Tuhan berikan kepada kita. Karena Tuhan seringkali tidak memberikan apa yang kita suka, tetapi apa yang kita butuhkan. Kita memang mau kedewasaan dan pertumbuhan, tetapi kalau bisa tanpa susah. Pertumbuhan rohani tidak akan ada tanpa adanya disiplin, bahkan mungkin rasa sakit (pain).

 

Elia Tuhan persiapkan untuk menghadapi Karmel. Bertarung dengan iman, dikeroyok oleh sekian ratus nabi baal. Maka rohaninya harus dipertumbuhkan, imannya harus dikuatkan. Maka Tuhan mempersiapkan hamba-Nya melalui Sungai Kerit, untuk menunggu dan sabar di situ menantikan kabar Tuhan. Elia disembunyikan oleh Tuhan karena Tuhan ingin membawa kedewasaan di dalam Elia.

 

Tugas berat, tentu provisi banyak. Kita semua tahu jika mau pergi ke tempat yang jauh dan berat, jangan dengan tangan kosong. Tuhan juga demikian, ketika Tuhan memerintahkan Elia, Dia juga menyediakan provisi. Tuhan menyiapkan mental dan skill yang dibutuhkan oleh hamba-Nya. Setiap kita juga demikian, kita mengerjakan tugas kita masing-masing dan setiap kita mungkin harus masuk di dalam penyediaan Tuhan yang berbeda-beda. Setiap kita tidak mungkin lepas begitu saja lalu Tuhan tidak memedulikan kita. Tuhan menyediakan provisi untuk kita boleh mengerjakan tugas yang Tuhan berikan, dan penyediaan-Nya itu cukup. Maka jika kita bertanya apakah di dalam dunia ini saya bisa merasa cukup? Kalau dilihat dari sudut pandang nafsu kita, tidak akan cukup. Tetapi kita bisa merasa cukup kalau melihat dari perspektif Alkitab, bahwa anugerah Tuhan itu cukup untuk kita boleh menyelesaikan panggilan kita. Pada saat Paulus meminta Tuhan mencabut duri di dalam dagingnya, Tuhan mengatakan bahwa anugerah Tuhan itu cukup, cukup untuk melakukan tugas yang Tuhan berikan.

 

Kita mungkin berpikir penyediaan Tuhan kepada Elia itu mewah karena Ia akan melakukan kebangunan rohani yang besar. Sayangnya kalau kita membaca pasal-pasal selanjutnya, penyediaan Tuhan bagi Elia adalah roti, air, burung gagak, menumpang di rumah seorang janda miskin yang sudah hampir mati kehabisan makanan. Mengapa begitu? Karena yang sangat dibutuhkan Elia adalah rohani yang kuat, hati yang tidak mendua. Di sini Tuhan memberikan semua latihan yang dibutuhkan Elia. Adik-adik sekalian, fokuslah kepada tugas yang Tuhan berikan. Jangan fokus kepada apa yang dimiliki orang lain.

 

Penyediaan/provisi Tuhan dalam 1 Raja-raja 17

1. Sifat provisi Tuhan

Provisi Tuhan bersifat natural dan juga bersifat supranatural. Elia pergi ke Sungai Kerit yang bisa diminum airnya di situ (penyediaan natural). Penyertaan Tuhan tidak tentu semuanya supranatural. Dari hal yang natural, Tuhan tumpangi sesuatu yang supranatural. Tetapi hal yang supranatural juga bisa datang melalui hal yang natural. Burung gagak yang membawa makanan, tepung yang tidak pernah habis: ini supranatural. Natural dan supranatural, semua datang dari Tuhan.

2. Provisi Tuhan cukup untuk menyelesaikan tugas

Tuhan tidak sembarangan mengutus kita, Ia menyediakan segala hal. Penyediaan itu berkait untuk menyelesaikan tugas. Provisi setiap orang berbeda-beda, demikian tugasnya berbeda-beda. Kita tidak perlu iri satu dengan yang lain.

3. Provisi Tuhan itu meliputi ujian

Elia mendapat penyediaan dan penyediaan Tuhan itu juga meliputi ujian atau sekolah ketaatan. Sebuah sekolah di mana Tuhan langsung menjadi gurunya. Seorang tentara yang terlatih membutuhkan pelatihan yang mahal. Semakin hebat skill dan persenjataannya, semakin tinggi pelatihannya. Skill dan mental tidak muncul secara otomatis, maka Tuhan memberikan ujian. Maka Elia diutus pergi ke Kerit, itu adalah bagian dari ujian.

 

Ujian Elia:

1. Pembaharuan identitasnya

Elia betul-betul diajak untuk melihat rencana Tuhan dan kemudian memiliki identitas sebagai anak Tuhan, bukan hanya suatu suku tertentu di dalam sebuah bangsa. Elia diperintahkan sembunyi di Sungai Kerit, itu seolah-olah diperintahkan ke tempat di luar wilayah kerjanya sebagai orang Israel. 

a. Elia adalah seorang nabi, tetapi disuruh untuk sembunyi.

b. Elia adalah seorang Yahudi, tetapi ditolong oleh burung gagak.

Kita sering belajar kalau burung gagak itu memegang bangkai, makanannya adalah bangkai. Lalu sekarang burung gagak memberi makan Elia. Elia mungkin kebingungan, tetapi Elia belajar satu hal, Elia taat kepada Tuhan. Sumber kebenaran itu adalah Tuhan.

2. Elia dipanggil, diuji untuk betul-betul sandar kepada Tuhan sepenuhnya

Elia di Sungai Kerit berdiam dan merenung, kemudian Tuhan mengizinkan air sungainya mulai habis. Tetapi Tuhan belum memerintahkan apa-apa, sehingga Elia belum boleh pergi. Elia harus berada di situ, dalam keadaan air sungai yang pelan-pelan mulai turun. Kemudian pada detik-detik terakhir Tuhan memerintahkan Elia untuk pergi ke Sarfat. Itu adalah saat Elia belajar bersandar kepada Tuhan 100%. Kalau dipikir-pikir, susah menjadi Elia. Ia mengalami kelaparan dan kehausan, tidak ada hujan, karena Elia yang berdoa ingin ada kebangunan rohani. Siapa yang berdoa? Elia. Siapa yang kalau berdoa akan muncul hujan lagi? Elia. Kenapa Elia tidak berdoa? Karena Elia tahu belum waktunya. Saat sungai mulai mengering, ada 2 jalan keluar: pindah atau berdoa minta hujan turun. Tuhan belum memerintahkan Elia untuk pindah, namun jika Elia berdoa minta turun hujan, sasarannya tidak tercapai: memberi syok bagi suatu bangsa, memberi pelajaran bahwa baal tidak berkuasa. Ketika Anda berdoa untuk kebangunan, mungkin Anda juga akan kena dampaknya. Elia betul-betul mengasihi bangsanya, dia ingin ada kebangunan rohani, dan untuk itu Elia terkena dampak dari doanya sendiri (hidup tidak nyaman). Mungkin kita merindukan sesuatu dan berdoa, satu hal yang pasti adalah kita harus menyiapkan hati, kalau kita ikut ambil bagian dan kita akan Tuhan izinkan mengalami kesusahan (bagian dari proses).

 

John Calvin mengatakan, kita di dunia ini seperti sekolah Kristus, yaitu sehari-hari kita belajar mengikuti Kristus dan belajar taat. Anak-anak, biar saat kita berada di Sekolah Ketaatan, kita tidak kehilangan trust kita. Pegang tangan Tuhan meski kita belum bisa melihat hari depan. Tuhan akan tuntun kita menuju hari depan yang penuh dengan pengharapan.

 

Ringkasan oleh TLG.