SEKOLAH KRISTEN CALVIN

 

Alamat Kami :
Menara Calvin Lt.3
Kompleks RMCI
Jln. Industri Blok B14 Kav. 1
Jakarta Pusat 10720
Telp : (021) 658-678-12
    (021) 658-678-14
Faks. : (021) 658-678-13
HP :

087-8899-70000

humas@sekolahkristencalvin.org

beranda | berita | the habits of christian home

The Habits of Christian Home

The Habits of Christian Home
Seminar Orang Tua dan Guru Januari 2020
Pdt. Ivan Kristiono
Kolose 2:3-5

Jemaat di Kolose bertemu dengan masalah ajaran yang sesat. Mereka masih mempunyai hidup yang tertib dan iman yang teguh, dan Paulus menegaskan bahwa jangan sampai tertib hidup dan iman teguh mereka itu dirusak oleh ajaran yang tidak sehat. Ajaran yang kelihatan indah, tetapi belum tentu benar. Ajaran yang sehat berkait dengan hidup yang tertib dan iman yang teguh, demikian sebaliknya. Ajaran yang sehat menjadi fondasi dari tertib hidup sebuah keluarga. Tertib hidup adalah kumpulan kebiasaan-kebiasaan yang kudus, yang Tuhan sudah berikan dan sedang dalam proses kehidupan kita. Meskipun hidup kita sudah diperbaharui di dalam Kristus, namun kita memerlukan proses pengudusan. Jadi tidak otomatis saat itu juga saat kita dimenangkan, kita langsung suci dihadapan Tuhan. Ketika kita bertobat, masih ada pola-pola kebiasaan dosa kita yang lama. Kita perlu pertobatan dan pergumulan hidup suci di hadapan Tuhan. Perlu ada perjuangan untuk ada di dalam kekudusan.

Jay Adams, dalam buku “Competent to Counsel”, menurutnya, hidup perlu struktur. Hidup bebas itu perlu struktur, struktur itu membuat hidup menjadi bebas. Bebas bukan berarti hidup semaunya, ikan yang ada di air jika ditaruh di darat akan mati, justru di dalam air ikan dapat bebas berenang. Hidup itu ada struktur, yaitu kebiasaan-kebiasaan. Masalahnya kebiasaan itu apakah kebiasaan yang benar? Ada argumen mengatakan bahwa Adams menganut paham Behaviorisme. Adams tidak harus dilihat sebagai orang yang jatuh kepada Behaviorisme, ada banyak hal yang indah di dalam penstrukturan kehidupan. Adams memaparkan bahwa satu kebiasaan buruk dapat berdampak kepada aspek-aspek kehidupan yang lain, karena itu perlu ada total structuring, yaitu menata seluruh hidup.

Charles Duhigg dalam buku “The Power of Habit”, mengatakan bahwa satu kebiasaan kecil yang diubah, dapat memengaruhi kebiasaan-kebiasaan yang besar. Charles Duhigg memberikan contoh kebiasaan yang baik yaitu bangun pagi. Misalnya biasa bangun jam 8 pagi, lalu kemudian bangun jam 5 pagi, maka ia punya waktu senggang. Waktu senggang tersebut diisi dengan saat teduh, membuat kopi, baca kitab suci, berdoa, baru meminum kopi. Kebiasaan itu membuat dirinya lebih tenang dan damai. Setelah itu ia menyadari bahwa ia masih punya waktu senggang lagi, akhirnya ia berolahraga. Ia menjadi lebih segar. Kemudian ia bisa bertemu tetangga-tetangga sekitarnya dan berkenalan membangun relasi. Kebiasaan-kebiasaan ini membuatnya lebih damai, tenang, segar, dan memiliki performa yang meningkat seiring berjalannya waktu. Ini yang disebut Charles Duhigg sebagai satu kebiasaan diubah yang berdampak kepada kebiasaan-kebiasaan yang lain. Poin yang saya ambil melalui Adams dan Duhigg adalah habit atau kebiasaan dapat memengaruhi yang lain. Untuk hidup kudus, ada pola atau struktur yang harus dibenahi yang tujuannya adalah kehendak Tuhan.

Untuk mengubah kebiasaan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
1. Untuk mengubah kebiasaan perlu motivasi dan hati.
2. Ada niat dan lingkungan yang mendukung.
3. Orang yang berubah itu melakukan dehabituasi (membiasakan diri menghilangkan kebiasaan yang jelek).
4. Melakukan rehabituasi (semua kebiasaan-kebiasaan yang baik sesuai Firman Tuhan, dicoba untuk dibiasakan sehingga menjadi sebuah kebiasaan).
Jika sudah menjadi kebiasaan, hal yang sukar akan menjadi mudah. Untuk menata habituasi, perlu disiplin. Disiplin akar katanya adalah pemerintahan [enkrateia], yaitu memerintah diri sendiri, menaklukan dan mengontrol diri, sebagai raja atas tubuh kita sendiri. Paulus mendapatkan pergulatan ketika menulis 1 Timotius 4:7, “Latihlah dirimu beribadah”, berlatih dengan berjuang keras dan berpeluh. Disiplin adalah jalan di dalam pengerjaan pengudusan di dalam hidup kita.

Ada hal penting yang tidak boleh kita abaikan ketika kita membicarakan mengenai kebiasaan: masalah motivasi.
Proses pengudusan melibatkan habituasi, tetapi pengudusan tidak sama dengan habituasi. Proses pengudusan terjadi melalui pekerjaan Roh Kudus dan motivasi yang kudus dari hati.

Saat ini kita melihat kaitan hati dan tindakan:
Hati diubah dahulu, lalu mendorong orang mengubah kebiasannya. Ketika hatinya diubah oleh Tuhan, dia menyadari dia perlu berubah. Kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan terus menerus juga dapat mengubah hati. Jadi ada pengaruh hati menuju ke kebiasaan demikian sebaliknya. Namun, tidak otomatis. Biasa ke gereja, biasa membaca Alkitab, belum tentu mendapat hati yang baik. Di sini kita menyadari bahwa semuanya adalah buah roh, yaitu kehadiran Roh Kudus di dalam hati. Sekarang kIta tahu bahwa semua itu tidak otomatis, namun perlu diingat bahwa habituasi adalah proses dari pengudusan.

Ada 2 hal yang perlu dalam habituasi:
1. Kinestetik: dibiasakan berulang-ulang. Tetapi hal ini bisa menjadi sekedar rutinitas (mekanik), maka juga perlu ada yang kedua:
2. Poetik: diingatkan kenapa melakukan itu.

Aplikasi di rumah:
1. Belajar menghormati orang lain melalui kelas Zoom, menggunakan pakaian yang rapi, berani tampil di depan kamera, dengan wajah yang terlihat dengan jelas.
2. Atensi/fokus dibangun melalui kebiasaan. Latih atensi/fokus dengan mendengarkan pelajaran, membaca buku, berbicara, dsb.

Ringkasan oleh TLG.